Strategi RI Menahan Defisit Migas agar Neraca Dagang Tetap Kuat

oleh -1 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Bara Winatha*)

Neraca perdagangan Indonesia menghadapi tantangan dari meningkatnya harga minyak dunia dan tingginya kebutuhan impor energi. Kondisi tersebut membuat defisit sektor migas berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan secara keseluruhan. Di tengah situasi tersebut, pemerintah mendorong peningkatan ekspor nonmigas, penguatan produk bernilai tambah, serta perluasan akses pasar internasional. Strategi tersebut menjadi penting agar surplus nonmigas dapat menjadi penopang ketika sektor migas mengalami defisit, sekaligus menjaga ketahanan perdagangan nasional dalam menghadapi perubahan harga komoditas global.

banner 336x280

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan pemerintah terus mewaspadai kenaikan harga minyak dunia yang kembali mencapai sekitar US$100 per barel. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor migas sehingga pemerintah perlu memastikan pertumbuhan ekspor nonmigas terus diperkuat. Dengan demikian, surplus yang dihasilkan sektor nonmigas diharapkan mampu mengimbangi defisit perdagangan yang berasal dari kebutuhan impor minyak dan produk energi.

Budi menjelaskan bahwa pemerintah tidak hanya menjaga agar defisit perdagangan migas tidak semakin besar, tetapi juga terus memperbesar surplus dari sektor nonmigas. Strategi tersebut diperlukan karena perubahan harga minyak dunia berada di luar kendali pemerintah dan dapat memengaruhi nilai impor energi. Ketika harga minyak meningkat, nilai impor dapat ikut terdorong sehingga ruang surplus perdagangan menjadi lebih sempit apabila tidak diimbangi dengan peningkatan ekspor.

Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah adalah memperluas akses pasar bagi produk Indonesia. Kementerian Perdagangan mengembangkan platform digital InaExport yang mempertemukan eksportir dalam negeri dengan pembeli internasional. Pemerintah juga menyiapkan Trade Expo Indonesia 2026 pada 14 hingga 18 Oktober sebagai sarana mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon pembeli dari berbagai negara. Lebih dari 4.000 buyer telah mengonfirmasi kehadiran dalam kegiatan tersebut.

Upaya memperkuat ekspor tersebut menjadi semakin relevan karena data perdagangan menunjukkan sektor nonmigas masih menjadi penopang utama neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan barang pada Juli 2026 mengalami surplus sekitar US$120 juta. Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus US$3,10 miliar. Angka tersebut mampu mengimbangi defisit perdagangan migas yang mencapai US$2,98 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa surplus perdagangan Juli berasal dari kinerja komoditas nonmigas, sementara sektor migas masih mengalami tekanan akibat impor hasil minyak dan minyak mentah. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari hingga Juli 2026 masih mencatat surplus US$3,70 miliar. Namun, struktur tersebut menunjukkan bahwa ketahanan neraca perdagangan sangat bergantung pada kemampuan sektor nonmigas mempertahankan kinerja positif.

Di sisi lain, pasar internasional masih menunjukkan permintaan terhadap produk nonmigas Indonesia. Tiongkok menjadi salah satu mitra dagang utama Balikpapan dengan nilai pembelian mencapai US$167,40 juta, disusul Filipina sebesar US$92 juta dan Malaysia sekitar US$59,44 juta. Permintaan tersebut menjadi gambaran bahwa diversifikasi pasar dan penguatan komoditas nonmigas dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kinerja ekspor.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan neraca perdagangan Indonesia masih memiliki ruang untuk mempertahankan kinerja positif meskipun menghadapi dampak fluktuasi harga minyak dunia. Menurutnya, produk unggulan Indonesia masih memiliki daya saing di pasar global dan dapat menjadi penopang ekspor apabila terus didukung kebijakan pengembangan komoditas.

Anindya menjelaskan sejumlah sektor seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur masih memiliki peluang dalam perdagangan global. Selain itu, hilirisasi mineral juga dinilai dapat meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia. Produk seperti stainless steel, bahan pembuat baterai, alumina, dan aluminium menjadi contoh komoditas yang tidak lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.

Penguatan hilirisasi menjadi relevan karena peningkatan nilai tambah dapat memperbesar penerimaan dari setiap komoditas yang diekspor. Strategi tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas basis ekspor sehingga tidak terlalu bergantung pada sejumlah komoditas tertentu. Dengan semakin beragamnya produk ekspor, perubahan harga satu komoditas global dapat lebih mudah diimbangi oleh kinerja sektor lainnya.

Di saat yang sama, pengendalian defisit migas tetap menjadi bagian penting dalam menjaga neraca perdagangan. Pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi domestik, pengembangan energi alternatif, serta efisiensi konsumsi. Penguatan bauran energi dan pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya dalam negeri juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri dalam jangka panjang.

Kombinasi antara pengendalian tekanan impor migas dan peningkatan ekspor nonmigas menjadi strategi yang saling melengkapi. Penguatan produksi energi domestik dapat menahan pertumbuhan nilai impor, sementara ekspansi ekspor dan hilirisasi dapat memperbesar sumber devisa. Pada tingkat daerah, pengembangan industri pengolahan dan perluasan pasar ekspor juga dapat memperkuat kontribusi sektor nonmigas terhadap perekonomian nasional.

Indonesia juga perlu terus meningkatkan kapasitas ekspor melalui perluasan pasar, penguatan daya saing produk, hilirisasi, serta diversifikasi komoditas. Di tengah kenaikan harga minyak dunia, kemampuan mempertahankan surplus nonmigas menjadi salah satu faktor penting agar tekanan defisit migas tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi neraca perdagangan nasional. Strategi tersebut sekaligus memperkuat fondasi perdagangan Indonesia agar lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi global.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *